Pengamen Angklung Jalanan Mencari Nafkah Sembari Melestarikan Budaya
Alunan musik kontemporer beradu dengan riuh lalu lintas di persimpangan jalan Juanda, Sidoarjo. Meskipun banyak kendaraan lalu lalang, alunan musik khas dari bambu tetap terdengar lantang dan penuh semangat. Angklung, alat musik asal jawa barat yang dimainkan dengan cara di goyang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia.
Bercampur dengan alat musik lainnya seperti, nyanyian lagu dangdut, campur sari dan daerah dapat memikat perhatian pengguna jalan. Maklum, di masa serba modern sudah jarang sekali peminat musik jenis tradisional, terutama didaerah Surabaya dan Sidoarjo.
Saat lampu merah menyala, seorang dari mereka mulai bergegas mengumpulkan uang dari kendaraan-kendaraan. Tak jarang orang-orang mengambil foto dan video karena merasa termanjakan oleh penampilan angklung tersebut.
Bahkan saat lampu sudah hijau, beberapa orang masih menyempatkan untuk memberikan seribu, dua ribu bahkan hingga sepuluh ribu rupiah. Mereka termasuk diuntungkan karena lampu merah di perempatan juanda lebih lama daripada hijaunya.
Melihat minimnya ketertarikan warga Sidoarjo dan Surabaya akan jenis musik tradisional, mereka pun secara tidak sadar telah menghidupkan kembali budaya Indonesia yang sempat terlupakan. Komunitas ini terbuka untuk umum dari jenjang masih sekolah hingga sudah berkeluarga dan kebanyakan anggotanya beajar secara otodidak.
Namun, pemain alat musik angklung ini hanya boleh berasal dari Cilacap. "Mereka takut rugi dan kalah saing kalo banyak yang bisa mainin angklung, jadi mereka biasanya ngajarin orang yang dari daerah sama saja. Biar budaya dari daerah itu juga engga hilang," ungkap Budi.
Komunitas tersebut sudah bergabung dengan komunitas Surabaya dan sudah ada 3 grup dengan tempat pangkalan yang berbeda-beda. Mereka mulai menyebar pada jam-jam ramai yaitu sekitar jam 2 siang hingga malam hari saat jalanan mulai sepi. Tidak hanya berdiam pada satu tempat, mereka juga biasa ngamen sambil keliling kampung di daerah Panjang Jiwo, Rungkut.
Penghasilan yang mereka dapatkan nanti akan dibagi rata dan sebagian untuk uang kas kelompok. Uang kas itu nanti akan digunakan sebagai biaya transportasi, sewa tempat untuk alat musik dan perawatan alat musik. Sering kali mereka juga di sewa untuk sebuah acara.
Umumnya tarif yang ditawarkan sekitar 600 ribu rupiah, Sayangnya di Surabaya dan Sidoarjo peminatnya tidak sebanyak Jogja, Bali, dan Jakarta sehingga mereka belum berani untuk menarik biaya sebanyak itu. Tertarik? Yuk undang mereka dan ikut berperan dalam upaya pelestarian budaya bangsa!
Sumber : https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/tsaniyaatikahanis/5a2964d1f33a2d5bfb31ed62/pengamen-angklung-jalanan-mencari-nafkah-sembari-melestarikan-budaya

0 Komentar