Angklung Calung Tarung Eksis di Jalan, Ingin Tembus Industri
Pemusik jalanan menjadi warna di tiap kota metropolis. Termasuk di Jakarta. Salah satu pemusik jalanan itu grup Angklung Calung Tarung. Mereka tetap eksis dengan mengatur jadwal, agar tidak bentrok dengan pemusik angklung lainnya.
NASUHA, Jakarta
MATAHARI sudah beranjak naik. Jam menunjukkan pukul 09.30 WIB. Aktifitas warga Jakarta mulai mengeliat, sekalipun hari libur akhir pekan. Begitu pun di sekitaran Stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan. Kenapa dinamakan Stasiun Duren Kalibata? Rupanya tidak jauh dari stasiun commuterline atau kereta rel listrik (KRL) tersebut terdapat sentra durian yang cukup terkenal di wilayah Jakarta.
Rombongan kereta dari arah Bogor tujuan Kota baru saja tiba di stasiun tersebut. Meski akhir pekan, namun penumpang tetap padat. Maklum, banyak masyarakat dari luar Kota Jakarta kerap berpergian ke ibu kota untuk jalan-jalan atau berkunjung ke tempat keluarga. Nah, KRL menjadi pilihan utama.
Terutama bagi pekerja yang tinggal di Bogor namun, bekerja di Jakarta. Sering kali, kendaraan dititipkan di stasiun, lalu pulang ke rumah menggunakan KRL. Bagi para pekerja yang rutin melakukan aktivitas tersebut, selalu tahu keluar melalui pintu barat Stasiun Duren Kalibata.
Namun, ada yang tak biasa dijumpai di pintu keluar Stasiun Duren Kalibata. Sayu-sayu terdengar suara tabuhan gendang, angklung dan alat musik lainnya. Rasa ingin tahu pun, mendorong puluhan penumpang berjalan menuju ke arah rel kereta. Di sana sudah terdapat beberapa pemusik jalanan yang sedang asyik bermusik.
Dari beberapa lagu yang dibawakan cukup familiar bagi pengemar lagu dangdut. Ada lagu perahu layar, Beberapa lagu yang tengah hits pun dikemas dengan aransemen musik dangdut koplo. Seperti lagu “Syantik” yang naik daun oleh penyanyi Siti Badriah, lagu “Kemarin” milik Seventeen dan lagu “Perahu layar”.
Tidak butuh waktu lama untuk berbincang-bincang dengan pemusik jalanan ini. Group “Angklung Calung Tarung” ini bagian dari komunitas angklung Jakarta. Riki Setiawan, 23, salah satu pemusik dari grup Angklung Calung Tarung. Setiap ngamen dia memainkan bedug selo. “Setiap kali ngamen kami terdiri dari 6 orang personel,” ujar Riki panggilan kepada INDOPOS, Minggu (14/04/2019).
Pemuda lajang ini bercerita, grup Angklung Calung Tarung sudah bermain musik sejak 2012 lalu. Setiap hari selalu berpindah-pindah tempat. Dalam sehari, Riki mulai ngamen sejak pukul 07.00 hingga pukul 11.00 WIB. Kemudian beristirahat selama satu jam, dan baru berhenti ketika matahari pelan-pelan tenggelam di ufuk barat. ”Kalau badan masih fit, kita berangkat ngamen lagi sampai malam, biasanya sampai pukul 21.00 WIB,” katanya.
Grup angklung jalanan ini tidak pernah menjadwal rute untuk setiap kali ngamen. Dalam satu hari mereka selalu berpindah-pindah tempat. Agar tidak bentrok ngamen dengan sesama group angklung jalanan, menurut pria yang mengaku hanya lulusan SMP ini ada grup Whatsapp (WA) untuk tempat berbagi informasi. ”Biasanya malam hari kita sharing di grup WA dengan sesama group angklung. Ya biar enggak bentrok aja,” katanya.
Riki menuturkan, selain untuk menghibur para pekerja kantoran yang hendak menuju tempat bekerja, tujuannya mengamen untuk melestarikan kebudayaan angklung. Sekali pentas, biasanya hanya berhenti untuk beristirahat saja, seperti merokok sembari minum. “Istirahat hanya dilakukan bergantian, lagu tetap jalan terus. Kan kita tujuan kita untuk menghibur masyarakat di jalan,” ungkapnya.
Putera sulung dari dua bersaudara pasangan Ratiman, 40 dan Sukeisih, 36, ini menyebutkan, tidak saja membawakan lagu-lagu beraliran koplo, tetapi juga lagu genre pop, lagu tradisional dari Jawa Barat dan lagu-lagu religi.
Dalam membawakan lagu, grup Angklung Calung Tarung ini sudah cukup kompak dan serasi. Joni dan Kus, keduanya berperan untuk berkeliling meminta sawer dari para penonton sembari membawa ember kecil. Empat personel lainnya Riki Setiawan menabuh bedug selo, tripok oleh Diki Firmansyah, 19, angklung oleh Juli, 26, dan bass sambung oleh Triwiyono, 30. ”Kita sudah belajar sejak masih di kampung secara otodidak. Untuk belajar lagu-lagu baru, paling kita hanya butuh waktu seminggu agar musiknya selaras. Kita untuk belajar paling di base camp di Mangga Besar,” terangnya.
Saat belajar lagu-lagu baru, mereka mengaku cukup kesulitan pada penguasaan nada. Selain itu kekompakan dan keserasian dalam memainkan tiap alat musik. Dalam satu hari mengamen, dikatakan Riki biasanya group Angklung Calung Tarung membawakan lagu hingga 30 lagu.
Dia mengungkapkan, penghasilannya mengamen setiap hari tidak menentu. Rata-rata setiap hari bisa memperoleh Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Hasil ngamen, menurut Riki ditentukan oleh faktor cuaca. Setiap keluar untuk mengamen, tidak sedikit batal pentas karena hujan. ”Kita keluar sudah keluar ongkos yang tidak sedikit, pas di tempat hujan. Kita jadi batal pentas,” ungkapnya.
Untuk mensiasati cuaca yang tidak menentu, dikatakan Riki dia bersama group Angklung Calung Tarung harus cerdas melihat kondisi. Apabila hujan kerap turun di pagi hari, maka waktu untuk mengamen di sore hari. Demikian pula, kalau hujan sering di sore hari, maka waktu untuk mengamen dilakukan di pagi hari. ”Pas banyak di base camp paling buat istirahat sama belajar menguasai lagu-lagu baru, agar semakin selaras dan serasi,” ujar Riki.
Meskipun pendapatan Grup Angklung Calung Tarung dalam sehari tidak besar. Dikatakan Riki, pembagian pendapatan dalam sehari dilakukan secara adil. Setiap pendapatan dalam sehari dipotong uang transport, uang sewa atau uang kas dan sisanya dibagi secara adil. “Uang sewa ini untuk perbaikan, apabila alat musik sewaktu-waktu rusak,” katanya.
Ia mengatakan, setiap satu minggu sekali secara rutin melakukan perawatan untuk alat-alat musik. Untuk perbaikan, seperti angklung dilakukan secara manual di base camp. Sementara alat-alat musik yang rusak dan tidak bisa diperbaiki diganti dengan yang baru. ”Untuk menarik penonton, kita pakai seragam batik agar terlihat mewah,” ungkapnya.
Sukses menjadi pengamen jalanan bukanlah cita-cita Riki dan lima personel di grup Angklung Calung Tarung. Keadaanlah yang memaksa mereka, karena sulitnya mendapatkan peluang pekerjaan di ibu kota dengan keahlian terbatas.
Semula tujuan mereka berangkat ke Ibukota hanya untuk melestarikan kesenian musik Jawa. Mereka sudah menyiapkan mental dan semua risiko yang bisa terjadi di Kota Metropolitan nanti. Grup Angklung Calung kerap berhadapan dengan petugas Satpol PP dan petugas Dinas Sosial Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
”Paling kalau sama Satpol PP kita sering diimbau agar tidak mengamen pada jam-jam tertentu. Tapi kalau dibawa oleh petugas, alhamdulillah kita belum pernah,” bebernya.
Grup Angklung Calung Tarung dirintis sejak mereka di kampung halaman. Mereka berasal dari satu wilayah di Cilacap, Jawa Tengah. Mereka terbentuk karena memiliki kesamaan keahlian dalam bermain musik. ”Kita ketemu tidak sengaja. Kita tidak berasal dari satu desa yang sama. Tapi karena punya kesamaan keahlian bermain musik, kita kemudian membentuk grup Angklung Calung Tarung,” katanya.
Dia berharap, Pemprov Jakarta memperhatikan para pengamen jalanan. Dengan memberikan pembinaan dan menyediakan tempat yang layak untuk pentas. Beberapa kali, dikatakan Riki Grup Angklung Calung Tarung sering mendapat pekerjaan tampil di cafe, hotel dan gedung perkantoran. ”Kami terus ingin berkarya secara resmi, tidak selamanya di jalanan. Semoga ke depan Pemprov DKI memberikan perhatian,” ucap Riki diaminin personel Angklung Calung Tarung lainnya.
Sumber: indopos.co.id
Sumber: indopos.co.id

0 Komentar