Angklung Banyuwangi
Angklung Caruk
Kata “caruk” berasal dari kata asli Banyuwangi yang berarti “pertemuan”. Dua kelompok bertemu dan bersaing untuk bermain angklung bersama yang disebut angklung caruk.
Biasanya ada tiga kelompok penonton. Satu kelompok mendukung satu kelompok angklung dan kelompok penonton lainnya mendukung kelompok angklung kedua. Kelompok ketiga adalah penonton netral.
Angklung Tetak
Istilah tetak berasal dari bahasa yang berarti “menjaga di malam hari”. Angklung tetak dapat menjadi alat yang digunakan untuk membantu jaga malam. Angklung tetak terkenal pada tahun 1950. Pada awal berdirinya angklung tetak tumbuh di desa Glagah, dan pada tahun 1974 telah lebih disempurnakan lagi, terutama dari segi irama.
Angklung Paglak
Paglak adalah gubuk kecil sederhana yang dibangun di sawah atau di dekat pemukiman. Paglak dibangun dari bambu dan dibangun sekitar 10 meter di atas tanah. Jadi, jika seseorang ingin masuk ke dalam gubuk, ia harus memanjat untuk mencapainya.
Fungsi bangunan ini sebagai tempat untuk menjaga padi dari burung. Petani biasanya menjagas sawah sembari bermain alat musik angklung dalam paglak tersebut. Karena itu, seni ini disebut angklung paglak. konon musik tersebut dulunya diciptakan untuk mengejek para penjajah kolonial. Untuk memainkan musik tersebut dibutuhkan keberanian dan konsentrasi ekstra karena bertempat di ketinggian. Orang-orang Belanda yang ditantang untuk memainkan musik di ketinggian, tidak berani dan mengakui bahwa orang pribumi jauh lebih berani daripada mereka.
Angklung Dwi Laras
Merupakan hasil pengembangan dari angklung tetak, penggabungan komposisi dua nada, yaitu laras pelog dan laras slendro.
Angklung Blambangan
Angklung Blambangan merupakan improvisasi dari angklung caruk. Terdapat instrumen musik termasuk gong dan alat musik Gandrung.
Angklung CarukAngklung Blambangan merupakan improvisasi dari angklung caruk. Terdapat instrumen musik termasuk gong dan alat musik Gandrung.
Seni Angklung Caruk berasal dari jenis
kesenian Legong Bali. ” Caruk ” dalam bahasa Using berarti ” temu “.
Kata dasar itu bisa diucapkan ” Kecaruk ” atau ” Bertemu “. Kata ”
Angklung Caruk ” artinya adalah dua kelompok kesenian angklung yang
dipertemukan dalam satu panggung, saling beradu kepandaian memainkan
alat musik berlaras pelog itu, dengan iringan sejumlah tembang
Banyuwangian tujuannya untuk memperebutkan gelar sebagai group kesenian
angklung yang terbaik. Meski tidak ada aturan secara tertulis, kedua
kelompok kesenian itu sejak puluhan tahun sudah memahi aturan yang
menjadi kesepakatan. Sehingga, mereka tidak ada yang curang, tidak ada
yang marah saat kurang mendapatkan respon atau aplaus dari penonton.
Kecepatan irama musik dan lagu-lagu yang dimainkannya sangat dipengaruhi
oleh nuansa musik angklungritmis dari Bali. Namun dalam kesenian ini
terdapat juga perpaduan antara nada dan gamelan slendro dari Jawa yang
melahirkan kreativitas estetik. Dalam pertunjukan seni angklung caruk
juga disajikan beberapa tarian yang biasanya dimainkan oleh penari
laki-laki. Jenis-jenis tarian tersebut antara lain tari jangeran, tari
gandrungan, cakilan, tari kuntulan, dan tari daerah Blambangan.
Instrumen musik angklung caruk terdiri dari seperangkat angklung ( dua
unit angklung ), kendang ( dua buah ), slenthem ( dua buah ), saron (
dua buah ), peking ( dua buah ), kethuk ( dua buah ), dan gong ( dua
buah ).
Tradisi Angklung Caruk adalah gambaran
betapa tingginya apresiasi warga Banyuwangi terhadap musik daerahnya.
Dalam angklung caruk itu, pertama setiap kelompok masing-masing
membawakan ” larasan ” yang menjadi andalan dengan seorang penari pria
yang disebut BADUT. Setelah selesai dan sesuai kesepakatan waktunya,
maka giliran kelompok lain melakukan hal yang sama. Pada sesi berikutnya
adalah Adol Gending, yaitu kelompok A misalnya, membawa intrumen
beberapa ketukan dari sebuah lagu, untuk ditebak kelompok B. Apabila
kelompok B sudah tahu, maka diberi kesempatan memotong dengan cara ”
ngosek ” atau memukul gamelan secara tidak beraturan. Jika itu sudah
terjadi, maka kelompok A harus menghentikan intrumennya dan memberikan
kesempatan kepada kelompok B untuk meneruskan intrumen itu. Jika
ternyata masih salah, maka kelompok A akan mengambil kembali dengan ”
ngosek ” kemudian meneruskan hingga tuntas. Ini juga berlaku kepada
badut, mereka juga diadu variasi tariannya dengan lagu-lagu andalan yang
dimiliki kelompok. Dalam tempo cepat, baik tarian maupun pukulan
instrumennya tidak boleh ada yang salah.
Itulah gambaran sedikit tentang Angklung
Caruk Banyuwangi yang penuh sportivitas. Selain masing-masing membawa
supporter ( pendukung ), ada juga penonton netral yang siap memberikan
aplus jika memang penampilan kelompok itu bagus dan memukau. Namun bagi
mereka yang kurang beruntung, caci makian dan ejekan penonton tetap
diterimanya, sebagai pemicu agar terus melakukan latihan dan
meningkatkan insting/ kepekaan bermusiknya.
Berdasarkan cerita para penabuh tua , dulu
pentas Angklung Caruk sering melibatkan kekuatan supranatural untuk
saling menjatuhkan lawan. Tetapi sekarang sudah makin positif sebab para
supporter sudah sportif menghadapi kekalahan dan kemenangan. Disana
juga selalu dihadirkan ahli-ahli angklung yang berwibawa. Dengan
kehadiran para ahli ini maka kelompok-kelompok angklung dan supporternya
tidak berani curang.

0 Komentar